|
komentar beberapa salafus shalih tentang dzikir.
Tentang pengertian dzikir, kita kadang terjebak pada pengertian hanya
melafadzkan lafadz-lafadz tertentu, atau hanya ingat kepada Allah Swt tanpa
realisasi amal dalam setiap langkah kehidupan. Padahal, pengertian dzikir itu
sangat luas mencakup berbagai sisi kehidupan seorang muslim. Menurut Abdul
Qadir Atha (1993:291), bahwa dzikir kepada Allah itu bermacam-macam;
diantaranya ialah dzikir dengan hati dan lisan, dzikir kepada Allah karena
dosa dan memohon ampun kepada-Nya, atau dzikir kepada Allah karena melakukan
maksiat, dan berpegang teguh pada sikap abar, atau dzikir kepada Allah dalam
menjalani perintah, dan seterusnya. Semua itu adalah dzikir. Seharusnya
manusia itu dzikir (mengingat) Allah, karena Dia selalu ingat kepada mereka.
Alaah Swt berfirman : “… berdzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya, agar
kamu beruntung”. (QS. Al-Anfal ayat 45).
Menurut Asy-Syaukani bahwa pengertian ayat di atas adalah : “ayat ini menjadi
dalil bahwa dzikir itu diperintahkan dalam setiap keadaan”. Senang susah,
suka dan duka, hendaknya dzikir senantiasa menghiasi langkah kehidupan
muslim.
Imam Ibnul Qayyimal-Jauziyah (1993:55) memberikan komentar terhadap ayat
diatas. Beliau berkata : “… selain kita berdzikir dan berdoa kepada Allah
Swt, hendaknya kita harus bekerja, beramaluntuk kepentingan ummat Islam.
Tidak dibenarkan apabila seseorang hanya duduk berdzikir sampai melupakan
tugas utama lainnya untuk menegakkan agama dan ummat Islam. Kalau hal ini
disadari oleh ummat Islam, Insya Allah dalam menghadapi berbagai tuntutan
zaman akan dapat diatasi dengan baik. Bahkan mendapatkan ridho Alah Swt.
Selanjutnya beliau bertutur, “dzikrullah yang dilakukan disetiap waktu akan
mendatangkan rasa aman pada diri, kesegaran dalam hati, mencerdaskan fikiran,
dan selalu mendapatkan petunjuk dari allah Swtke jalan yang benar. Orang yang
lupa kepada Allah dan tidak bersyukur atas nikmat-Nya akan dihinggapi
was-was, ketimbangan dan keraguan dalam hidupnya. Bahkan dia lupa pada dirinya
sendiri untuk berbuat baik”.
Allah Swt berfirman, “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada
Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada dirinya sendiri. Mereka
itulah orang-orang yang fasik”. (QS. Al-Hasyr ayat 19).
Maka dengan demikian, seyogyanyalah setiap mukmin senantiasa mengkaitkan
segala dimensi kehidupannya dengan titah dan perintah rabbaniyah. Tak ada
satupun dari sisi kehidupannya yang bertolak belakang dengan tital Allah Azza
wa jalla.
Dari Aisyah ra, ia berkata : “Adalah Rasulullah Saw selalu berdzikir kepada
Allah pada setiap masa”. (HR. Muslim).
Allah Swt berfirman : “Sesungguhnya dalam menciptakan langit dan bumi, dan
silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang
kekal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri dari duduk dan
dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan
bumi (seraya berkata) : “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini
dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS.
Ali Imran ayat 190-191).
(Majalah Risalah )
|