Skip to content
Site Tools
default color blue color green color
Home arrow eShop arrow ARTiKEL Gratis arrow CRV BOSS PENGEMIS

ARTiKEL Gratis arrow CRV BOSS PENGEMIS

CRV BOSS PENGEMIS

Harga: Rp. 1


         

 [ Kamis, 12 Juni 2008 ]

Bos Pengemis Tinggal Nikmati Hidup

Cak To, begitu dia biasa

dipanggil. Besar di keluarga pengemis,

berkarir sebagai pengemis, dan

sekarang jadi bos puluhan pengemis di

Surabaya. Dari jalur minta-minta itu,

dia sekarang punya dua sepeda

motor, sebuah mobil gagah, dan empat rumah.

Berikut kisah hidupnya.

---

Cak To tak mau nama aslinya

dipublikasikan. Dia juga tak mau wajahnya

terlihat ketika difoto untuk harian

ini. Tapi, Cak To mau bercerita

cukup banyak tentang hidup dan ''karir''-nya.

Dari anak pasangan

pengemis yang ikut mengemis, hingga sekarang menjadi bos

bagi sekitar

54 pengemis di Surabaya.

Setelah puluhan tahun mengemis,

Cak To sekarang memang bisa lebih

menikmati hidup. Sejak 2000, dia tak perlu

lagi meminta-minta di

jalanan atau perumahan. Cukup mengelola 54 anak

buahnya, uang mengalir

teratur ke kantong.

Sekarang, setiap hari, dia

mengaku mendapatkan pemasukan bersih Rp 200

ribu hingga Rp 300 ribu. Berarti,

dalam sebulan, dia punya pendapatan

Rp 6 juta hingga Rp 9 juta.

Cak To

sekarang juga sudah punya rumah di kawasan Surabaya Barat, yang

didirikan di

atas tanah seluas 400 meter persegi. Di kampung

halamannya di Madura, Cak To

sudah membangun dua rumah lagi. Satu

untuk dirinya, satu lagi untuk emak dan

bapaknya yang sudah renta.

Selain itu, ada satu lagi rumah yang dia bangun di

Kota Semarang.

Untuk ke mana-mana, Cak To memiliki dua sepeda motor Honda

Supra Fit

dan sebuah mobil Honda CR-V kinclong keluaran

2004.

***

Tidak mudah menemui seorang bos pengemis. Ketika menemui

wartawan

harian ini di tempat yang sudah dijanjikan, Cak To datang

menggunakan

mobil Honda CR-V-nya yang berwarna biru metalik.

Meski

punya mobil yang kinclong, penampilan Cak To memang tidak

terlihat seperti

''orang mampu''. Badannya kurus, kulitnya hitam,

dengan rambut berombak dan

terkesan awut-awutan. Dari gaya bicara,

orang juga akan menebak bahwa pria

kelahiran 1960 itu tak mengenyam

pendidikan cukup. Cak To memang tak pernah

menamatkan sekolah dasar.

Dengan bahasa Madura yang sesekali dicampur bahasa Indonesia,

pria

beranak dua itu mengaku sadar bahwa profesinya akan selalu

dicibir

orang. Namun, pria asal Bangkalan tersebut tidak peduli.

''Yang

penting halal,'' ujarnya mantap.

Cak To bercerita, hampir

seluruh hidupnya dia jalani sebagai pengemis.

Sulung di antara empat

bersaudara itu menjalani dunia tersebut sejak

sebelum usia sepuluh tahun.

Menurtu dia, tidak lama setelah peristiwa

pemberontakan

G-30-S/PKI.

Maklum, emak dan bapaknya dulu pengemis di Bangkalan. ''Dulu

awalnya

saya diajak Emak untuk meminta-minta di perempatan,' '

ungkapnya.

Karena mengemis di Bangkalan kurang ''menjanjikan' ', awal

1970-an, Cak

To diajak orang tua pindah ke Surabaya. Adik-adiknya tidak

ikut,

dititipkan di rumah nenek di sebuah desa di sekitar Bangkalan.

Tempat

tinggal mereka yang pertama adalah di emprean sebuah toko di

kawasan

Jembatan Merah.

Bertahun-tahun lamanya mereka menjadi pengemis

di Surabaya. Ketika

remaja, ''bakat'' Cak To untuk menjadi bos pengemis mulai

terlihat.

Waktu itu, uang yang mereka dapatkan dari meminta-minta

sering

dirampas preman. Bapak Cak To mulai sakit-sakitan, tak kuasa

membela

keluarga. Sebagai anak tertua, Cak To-lah yang melawan. ''Saya

sering

berkelahi untuk mempertahankan uang,'' ungkapnya bangga.

Meski

berperawakan kurus dan hanya bertinggi badan 155 cm, Cak To

berani melawan

siapa pun. Dia bahkan tak segan menyerang musuhnya

menggunakan pisau jika

uangnya dirampas. Karena keberaniannya itulah,

pria berambut ikal tersebut

lantas disegani di kalangan pengemis.

''Wis tak nampek. Mon la nyalla sebet

(Kalau dia bikin gara-gara,

langsung saya sabet, Red),''

tegasnya.

Selain harus menghadapi preman, pengalaman tidak menyenangkan

terjadi

ketika dia atau keluarga lain terkena razia petugas Satpol PP.

''Kami

berpencar kalau mengemis,'' jelasnya.

Kalau ada keluarga yang

terkena razia, mau tidak mau mereka harus

mengeluarkan uang hingga ratusan

ribu untuk membebaskan.

***

Cak To tergolong pengemis yang mau

belajar. Bertahun-tahun mengemis,

berbagai ''ilmu'' dia dapatkan untuk terus

meningkatkan penghasilan.

Mulai cara berdandan, cara berbicara, cara

menghadapi aparat, dan

sebagainya.

Makin lama, Cak To menjadi makin

senior, hingga menjadi mentor bagi

pengemis yang lain. Penghasilannya pun

terus meningkat. Pada

pertengahan 1990, penghasilan Cak To sudah mencapai Rp

30 ribu sampai

Rp 50 ribu per hari. ''Pokoknya sudah enak,''

katanya.

Dengan penghasilan yang terus meningkat, Cak To mampu membeli

sebuah

rumah sederhana di kampungnya. Saat pulang kampung, dia

sering

membelikan oleh-oleh cukup mewah. ''Saya pernah beli oleh-oleh

sebuah

tape recorder dan TV 14 inci,'' kenangnya.

Saat itulah, Cak To

mulai meniti langkah menjadi seorang bos pengemis.

Dia mulai mengumpulkan

anak buah.

Cerita tentang ''keberhasilan' ' Cak To menyebar cepat di

kampungnya.

Empat teman seumuran mengikutinya ke Surabaya. ''Kasihan, panen

mereka

gagal. Ya sudah, saya ajak saja,'' ujarnya enteng.

Sebelum ke

Surabaya, Cak To mengajari mereka cara menjadi pengemis

yang baik. Pelajaran

itu terus dia lanjutkan ketika mereka tinggal di

rumah

kontrakan di kawasan Surabaya Barat. ''Kali pertama,

teman-teman

mengaku malu. Tapi, saya meyakinkan bahwa dengan pekerjaan ini,

mereka

bisa membantu saudara di kampung,'' tegasnya.

Karena sudah

mengemis sebagai kelompok, mereka pun bagi-bagi wilayah

kerja. Ada yang ke

perumahan di kawasan Surabaya Selatan, ada yang ke

Surabaya

Timur.

Agar tidak mencolok, ketika berangkat, mereka berpakaian rapi.

Ketika

sampai di ''pos khusus'', Cak To dan empat rekannya itu

lantas

mengganti penampilan. Tampil compang-camping untuk menarik iba

dan

uang recehan.

Hanya setahun mengemis, kehidupan empat rekan

tersebut menunjukkan

perbaikan. Mereka tak lagi menumpang di rumah Cak To.

Sudah punya

kontrakan sendiri-sendiri.

Pada 1996 itu pula, pada usia

ke-36, Cak To mengakhiri masa lajang.

Dia menyunting seorang gadis di

kampungnya. Sejak menikah, kehidupan

Cak To terus menunjukkan peningkatan.

..

***

Setiap tahun, jumlah anak buah Cak To terus bertambah.

Semakin banyak

anak buah, semakin banyak pula setoran yang mereka berikan

kepada Cak

To. Makanya, sejak 2000, dia sudah tidak mengemis setiap

hari.

Sebenarnya, Cak To tak mau mengungkapkan jumlah setoran yang

dia

dapatkan setiap hari. Setelah didesak, dia akhirnya mau buka

mulut.

Yaitu, Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu per hari, yang berarti Rp 6

juta

hingga Rp 9 juta per bulan.

Menurut Cak To, dia tidak memasang

target untuk anak buahnya. Dia

hanya minta setoran sukarela. Ada yang setor

setiap hari, seminggu

sekali, atau sebulan sekali. ''Ya alhamdulillah, anak

buah saya masih

loyal kepada saya,'' ucapnya.

Dari penghasilannya itu,

Cak To bahkan mampu memberikan sebagian

nafkah kepada masjid dan musala di

mana dia singgah. Dia juga tercatat

sebagai donatur tetap di sebuah masjid di

Gresik. ''Amal itu kan

ibadah. Mumpung kita masih hidup, banyaklah beramal,''

katanya.

Sekarang, dengan hidup yang sudah tergolong enak itu, Cak To

mengaku

tinggal mengejar satu hal saja. ''Saya ingin naik haji,''

ungkapnya.

Bila segalanya lancar, Cak To akan mewujudkan itu pada 2010

nanti...

 

 

 

 

 

 

 

 



 




You may also be interested in this/these product(s):

KUPU-KUPU
KUPU-KUPU
Rp. 1
Add to Cart

Customer Support


Live Support - Always Connecting

ariprabowo

ayu


Shopping Cart

Show Cart
Keranjang belanja kosong.

Kategori Produk


Lihat Semua Produk
 



 
User Login




Kehilangan Password?
Belum terdaftar? Register